Suatu sore pekan kemarin, aku ketemuan rutin dengan adik-adikku. Seperti biasa, kami diskusi disitu. Namun saat itu entah ada hujan salju kali ya, jadinya yang datang cuman satu anak saja. Jadilah aku hanya kencan romantis berdua dengan salah satu adik yang datang itu.
Di tengah perjalanan diskusi kami, si adik tanya tentang memakai rok. Kurang lebih pertanyaannya seperti ini, "Mbak, kan kita pakai rok ya. Trus kalau kerja di bank dan disuruh pakai celana itu gimana mbak?. Soalnya teman saya ada yang kerja di bank dan dia memakai celana, tetapi kalau keluar bank pakai rok seperti aktivitas sehari-hari lainnya."
Ehm..ketika kita sudah berkomitmen dan berprinsip untuk memakai rok dengan keyakinan kita bahwa memakai rok (pastinya rok yang panjang, bukan rok mini atau rok jengki) adalah salah model baju yang diperbolehkan untuk dipakai perempuan, seharusnya kita bisa mengkondisikan sesuatu sesuai dengan kondisi kita. Salah satunya adalah kondisi tempat kerja. (itu menurutku lho ya...)
Ketika aku dulu memutuskan untuk memakai rok panjang dalam beraktivitas sehari-hari dan melapisi kakiku selalu dengan sepasang kaos kaki, tidak sedikit orang-orang yang mempertanyakan, apalagi keluarga dan teman-temanku di kampung. Dan petualanganku ke Surabaya ini menjadikan diriku pintar sekali nge-les. Jadi ketika ditanya, "Kenapa sih kok kamu pakai rok terus? Ndak ribet tuh?" Pastinya dengan entheng aku jawab, "Ya biar anggun lah. Apalagi kita sebagai perempuan, kan harus selalu tampil anggun" (sambil cekikikan dalam hati. Padahal aslinya masih juga pencilakan, loncat sana loncat sini kayak bajing loncat)
Pertanyaan tentang kaos kaki juga begitu, sering sekali keluar. "Kenapa tho, kok kamu kemana-mana pakai kaos kaki terus? Seperti orang sakit saja."
"Kalau siang, biar tidak hitam kakinya, trus kalau malam biar tidak kedinginan." dengan tersenyum-senyum sok manis gitu. Hahaha....
Dan alhamdulillah insyaAllah, orang-orang di sekelilingku sudah bisa menerima dan memahaminya. Termasuk ketika tanganku terkatup di dada saat orang yang bukan muhrimku mengajak salaman, sempat juga menjadi gunjingan orang-orang di daerahku. Tapi dengan cuek dan senyum manis yang selalu aku sunggingkan, membuat mereka jadi terbiasa.
"Ketika keyakinan dan prinsipmu itu adalah kebenaran, maka jangan ragu untuk mempertahankannya."
*Nuwun sewu gambar diambil di sini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar