Senin, 30 Januari 2012

Bisakah kita mencium wangi parfum-NYA?

Ketika seorang Vibi berkata, "Keyakinan bagi saya, seperti wewangian. Kita benar-benar bisa merasakannya, mencium aromanya, tetapi susah untuk mendefinisikannya terutama kepada orang-orang yang belum pernah, belum bisa atau memang tidak mau mencium aroma wewangian tersebut", aku mengangguk. 

Seperti bau wewangian yang disemprotkan dari sebuah botol parfum. Yang kita hirup dalam-dalam untuk bisa merasakan sensasi wanginya. Dan berjuta kata coba kita keluarkan dari mulut kita untuk bisa mendefinisikan rasanya.


Wewangian yang disampaikan si Vibi seperti bentuk nasihat baik kita yang kita berikan kepada orang lain. Dan wewangian itu memang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terbuka hatinya. Yang telah diberikan hidayah oleh-Nya untuk bisa menciumnya lebih dalam.

Dan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah saling mengingatkan sesamanya. Baik mengingatkan dalam bentuk nasihat perkataan ataupun dalam sikap. Walaupun tidak sedikit orang yang kita ingatkan tidak memberikan respon yang baik. Setidaknya itu bisa menjadi salah satu pelepas tanggung jawab kita sebagai penghuni bumi ini. Sepertinya yang difirmankan Allah swt pada surat Al-A'raf ayat 163-165.


*Nuwun sewu gambar diambil dari sini

Rabu, 18 Januari 2012

Alur Tanpa Jalur

Berkhayal terasa amat mudah
Tiada yang terasa susah
Dan semua begitu indah

Berpikir membuat sedikit menjerit
Terkadang merasa begitu stupid
Dan hatipun terasa sempit

Namun,

Bercerita terasa begitu lega
Beban terasa hampa
Dan hati berangsur gembira

Berkhayalah dalam kenyataan
Berpikirlah dalam kepastian
Berceritalah dalam rasa
Dan menulislah untuk mewujudkan itu semua.


(Ayo Tyas, nuliiiiiisssssss. apapun itu, tulislah)

Balas sms ndak ya?

Kemarin aku smsan dengan salah satu adikku. Tidak seperti biasa, jawabannya hanya singkat dan terkesan datar tanpa intonasi. Langsung saja aku ingat sesuatu, dulu pernah juga smsan dengan salah satu adik kelas, dia juga menjawab sms ku singkat-singkat. Sampai dengan jujurnya dia bilang, dia sedang tidak mood untuk smsan. Makanya jawabnya singkat-singkat.

Akhirnya aku memberikan sedikit motivasi ke adikku, hingga dia jadi sadar kalau aku telah menyadari kondisi mood-nya sedang buruk. Padahal sebenarnya untuk orang yang sering smsan dengan berbagai jenis orang, pasti paham kalau tiba-tiba nada smsnya berubah dan pasti terjadi sesuatu padanya.

Hal ini jadi salah satu pengawasanku tentang kondisi orang yang sedang aku ajak komunikasi terutama lewat sms. Kalau jawabnya hanya singkat-singkat saja, berarti dia memang sedang mempunyai mood yang buruk untuk smsan. Atau paling parah dia tidak mood karena anda (hahaha...kalau ini sepertinya aku sendiri yang mengalami.)

Kabar buruk : aku sudah mulai terjangkit penyakit ini, yaitu malas membalas sms. Padahal dahulu, sms orang iseng pun aku balas dengan keisengan (yang lebih kejam) agar dia kapok. Tapi sekarang, banyak sekali sms yang datang di inbox ponselku yang kuabaikan. Maaaaaaafffffffffff kan diriku teman-teman dan saudaraku.

Kabar baik : aku akan berusaha untuk menghilangkan penyakit itu. Jadi untuk para penggemarku, aku harap kalian bisa sabar ya. InsyaAllah sebentar lagi semua komunikasi akan terlayani dengan baik.


Rabu, 04 Januari 2012

Pilihan Baik

Kita hidup dihadapkan pada pilihan-pilihan. Ada pilihan baik dan ada pilihan buruk. Dan saya yakin semua orang tahu, lewat hati nuraninya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kecuali jika nuraninya telah mati. (Audzubillah....)

Ketika kita memilih kebaikan, itupun kita masih dihadapkan pada dua pilihan juga. Kebaikan untuk kita sendiri atau kebaikan yang mengajak orang lain.


Ketika sedang iseng mengamati sekitar, mungkin kita akan berpikir tentang kebaikan. Begitu banyak orang baik yang terlahir di bumi ini. Namun tidak sedikit pula, mereka yang memilih kebaikan untuk mereka sendiri.

Jika orang-orang yang baik ini berkumpul, dan mereka sama-sama menyatukan misi untuk benar-benar menciptakan kebaikan bersama, saya yakin kebaikan ini akan mendominasi kondisi bumi.

Namun jika kebaikan-kebaikan itu hanya berjalan sendiri-sendiri, maka tidak heran jika keburukan lebih mendominasi lingkungan kita. Walaupun begitu banyak kebaikan yang tersebar di bumi, dia akan kalah dengan keburukan yang tersatukan dengan baik.

*Nuwun sweu, gambar diambil di sini


Kecewa

Suatu hari aku aku main ke rumah pendetaku. Ngobrol ngalur-ngidul-ngetan-ngulon. Sampe akhirnya kita cocok pada satu obrolan tentang rumah sakit umum. Tidak usahlah menyebutkan apa nama rumah sakitnya. Tapi yang jelas rumah sakit itu letaknya lumayan dekat dengan kampus ITS. Sering sekali menjadi tempat pelarian mahasiswa yang sekarat melawan sakit maag dan diare (karena kedua penyakit itulah yang umum dijangkiti mahasiswa ITS).

Pendetaku bercerita tentang temannya yang kecelakaan lumayan parah. Tangannya mengalami patah tulang. Tapi apesnya, ketika di bawa ke rumah sakit itu, tidak mendapati pelayanan yang cepat dan tangkas. Malah berbagai alasan bla-bla-bla dikeluarkan oleh salah satu petugas rumah sakit, kalau mau mendapatkan perawatan. Sampai teman pendeta saya akhirnya terkapar tak tertangani dengan baik dan benar di ruang UGD. Saya yakin perasaan pendeta saya waktu itu sama hancurnya dengan saya ketika saya membawa adik saya berobat ke sana. (pokoknya musti banyak-banyak istighfar di sana.)

Lha aku, bagaimana dengan cerita perasaanku? Begini ceritanya, salah satu adikku sakit. Sepertinya maag akut sedang menggerogotinya. Tapi karena dia-nya juga lumayan agak bandel waktu itu, jadinya dia nahan sakitnya sampai tidak bisa tidur, nangis, ingin terjun dari lantai 7 perpustakaan ITS (hehe..berlebihan). Tapi memang benar, akhirnya karena saya juga tidak tega melihat dia meringis menahan sakit, saya angkutlah dia ke rumah sakit tersebut.

Daftar dulu. Oke, "Mbak, bu, mas, pak, saya mo daftar pasien sakit! Helloooo..." Akhirnya muncul juga si penjaga loket. "Lumayan cepet, sesuai dengan yang tertulis di plakat depan loket. Eh terlambat beberapa menit ding." batinku

Sambil membawa kupon ketemu dokter, kami menuju poli yang berhubungan dengan sakit adikku, maag. "Bujubune, banyak amat yang ngantri....ya wes mengantri dengan sabar. Disiplin"

1 detik, 1 menit, 1 jam..."Nona Eka..." (Alhamdulillah dipanggil, ayo dhek siap-siap).

Menghadap penjaga antrian, "Yang sakit siapa?" tanya bu penjaga. "Ini bu adik saya."jawabku
"Ya sudah yang sakit, duduk sini dulu. Mbak nya tolong bayar ini di loket sebelah." pesan ibu penjaga dengan nada tanpa kalem-kalemnya. "Hah...bayar dulu ya bu. Oke deh." batinku  "Tunggu bentar ya dhek!"

Pembayaran lancar, "Ini bu saya sudah membayar," sambut saya ketika menemui ibu penjaga lagi. "Ya sudah ditunggu dulu ya mbak, nanti dipanggil lagi." kata ibunya dengan nada tanpa rasa dosa. " Apaaaaaa.....???" teriakku dalam hati.

2 detik, 2 menit dan 2 jam lebih berlalu... Dan nama adikku belum dipanggil lagi. Padahal dia di sebelahku sudah mirip orang jalanan yang terkapar lemah tak berdaya di teras toko yang sudah tutup di malam hari. Melassssss....

Ya sudah, kulangkahkan kakiku menuju ibu penjaga. "Bu, ini antrian bisa disela apa tidak bu. Kasihan adik saya itu bu, sudah mirip ulat kepanasan yang sudah mengering, alias terbujur kaku...?" Si ibu penjaga akhirnya mendongakkan kepala melihat kondisi si adikku. Dan, "Ya sudah mbak, anaknya di suruh kesini sekarang." kata ibunya, "Alhamdulillah" batinku

Masuklah saya dan adik saya ke kamar pemeriksaan. Sebentar adik saya terbaring di kasur pemeriksaan, dokternya yang satu kabur. "Ya mungkin dia sedang ada tugas lain yang lebih mulia" hibur batinku "tegaaaaaaaa......"jeritku dalam hati "padahal pasien yang antri masih banyak."

1 detik, 2 menit, 3 jam...

Tidak sampai berjam-jam sih, tapi cukup memakan waktu beberapa menit adikku hanya bengong menahan sakit karena tidak juga diperiksa. Malah ada seorang DM yang mungkin lagi praktek di situ kelihatan banget kalau dia lagi bingung karena induknya telah kabur. Ya sudah, si penjaga dengan enthengnya bilang kepada DM nya, "Ya wes kamu periksa". Jelas saja si DM tambah bingung. Kelihatan banget dari gerak tubuhnya dan mimik wajahnya yang antara senyum dan mau kabur.

Untungnya dokter di sebelahnya langsung tanggap. Tidak berselang lama, si dokter asli langsung beranjak memeriksa adikku. "Lumayan cantik juga ni dokter," batinku memujinya... (eh beneran lho dokternya cantik, kalau tidak percaya tengok saja sendiri.)

Tapi kekecewaanku ternyata masih berlanjut, si dokter sepertinya tidak memeriksa langsung. Hanya pegang stetoskop, ukur tensi dan detak nadi trus juga mungkin pegang perut yang kata adikku lagi sakit, tapi kelihatan kurang begitu serius. Karena dia masih menganalisanya lewat cerita si adikku saja. Dan untuk menguatkan analisanya akhirnya dia berhasil membuat kami mengambil keputusan untuk menginap di rumah sakit. "Baguuuusssss.....!!!!!"

"Ya mbaknya yang tidak sakit silahkan mengurus pendaftaran kamarnya di tempat pendaftaran bawah." kata seorang penjaga di situ. "Adiknya biar menunggu di sini saja."
"Iya pak,"jawabku sekenanya. "Dhek kamu tunggu di sini sebentar ya" kataku kepada adikku yang aku sudah tidak tega lagi melihat wajahnya.

Ruang pendaftaran ada di lantai satu. tempatnya di pojokan. Tersembunyi dari ruang utama kedatangan. Dan ketika aku datang, ada petugas rumah sakit yang sudah mulai memasang pintu untuk menutup loket pendaftaran. "Loh piye tho, trus kalau sewaktu-waktu ada yang mau daftar seperti aku begini gimana???" gumamku.

Setelah melihatku, bapak petugas hanya memasang tiang pengunci saja. Tidak jadi semua. Namun berawal dari sinilah kekecewaaku mulai memuncak. Di ruang pendafataran tidak ada orang satu pun. Trus saya ketok, saya palu juga tidak ada yang muncul. Pernah terbesit untuk masuk ke dalam langsung, tapi aku urungkan.
Tidak berapa lama, ada perawat yang terlihat di ruangan dalam. Sambil melambai-lambaikan tangan aku coba meraih perhatian perawat. Alhamdulillah perawat keluar. "Ya, ada apa mbak?" tanya si perawat
"Mau daftar kamar opname mbak." jawabku
"Ooo, silahkan di tunggu dulu ya mbak.." kata perawat
Aku kira perawat tadi memanggil perawat yang bertugas untuk mengurus administrasi. Tetapi hampir 45 menit aku terdampar di situ ditemani bapak-bapak polisi yang ternyata juga menunggu loket buka dengan sekali-kali mengeluarkan kritikan atas kondisi rumah sakit. "Sabar ya pak," jawabku ketika mendengar bapaknya mengeluh. Padahal dalam hati aku juga lumayan mengeluh, "Kalau dalam satu hari ada 100 pasien yang akan mengurus pendaftaran opname atau hanya periksa saja, mungkin bakal ada 100 orang juga yang mungkin akan bertambah parah penyakitnya atau bahkan meninggal karena lambannya pelayanan." batinku dalam hati

Dan kalau membaca motto yang tertulis di setiap sudut rumah sakit tersebut, "menebar salam dan senyum dalam pelayanan" aku terkadang tertawa geli dan berdoa, semoga itu bakal segera terealisasi secepatnya. Bukan hanya hiasan dinding saja.

Dan selama kurang lebih 3 hari adikku menginap di rumah sakit tersebut. Selama itu pula banyak sekali hikmah yang bisa saya ambil. Salah satunya, yang sudah umum dan sering kita dengar adalah, menjadi sakit itu tidak enak dan mahal. Maka jagalah kesehatan dengan baik.

*Nuwun sewu, gambar diambil di sini