Rabu, 25 April 2012

Ngartis

Akhir pekan kemarin, beberapa temenku sepertinya sedang kompakan. Satu persatu mereka sms sesuatu hal yang sama. Menanyakan "kapan...?"

Kapan aku lamaran?
Kapan aku nyebar undangan?
Kapan aku menikah?

Kebetulan mereka yang bertanya, sudah melakukan perubahan status dari nona menjadi nyonya. Padahal dari teman-temanku yang belum melakukan perubahan status juga masih banyak. Tapi entah kenapa, dari pertanyaan yang mereka sampaikan, mereka kelihatan begitu penasaran sekali denganku. Aku terharu dengan perhatian kalian (hohoho....)

Berasa ngartis. Kalimat yang sempat aku utarakan ke salah satu temanku itu. Karena dia saking penasarannya denganku, dia malah mo mbuat gosip tentangku. Haduhhhh, capek deh.

Teman A : "Nduk kalau mo nikah jangan pas perutku udah gedhe ya. Biar aku bisa rewang di rumahmu"
Mayastatia : "Jangan sampai perutmu gedhe? Berarti setelah kamu melahirkan dong. Lha wong sekarang aja udah gedhe. Hahaha..... Doa baik kalian aku amini deh"

Teman B : "Yas, kamu kapan lamaran? Jangan mepet-mepet ya. Belum panen tambaknya."
Mayastatia : "Enaknya kapan ya, tante. Saya sih pengennya besok. Hoho"

Teman C : "Yas, gimana kabarmu? Undangannya mana?"
Mayastatia : "Undangan masih akhir tahun jeung. Datang ya, jangan lupa bawa kado pas pesta ulang tahunku"

Teman D : "Dhek, kapan undangannya nyampek ke abang?"
Mayastatia : "Adhek nungguin abang aja deh. :p "


Beberapa waktu terakhir ini, lingkungan sekitarku masih belum bosan untuk membahas hal itu. Tapi, aku biasa aja. Karena ada yang masih mengganjal pikiranku. Apa itu? Mikirin umat :)




Selasa, 24 April 2012

Suweeeee.....

Berkali-kali kulihat arloji di pergelangan tangan kiriku. Sambil menengok arah kanan dan kiri di sepanjang jalan depan sekolah.

Haduh abang ini kok lama sih. Dia lupa apa, kalau dia masih ninggalin adiknya di sekolah. sambil tak terasa kalau aku sudah menangis.

Beberapa murid sekolah terakhir, sudah pamit duluan. Dan aku masih tersisa di depan gerbang sekolah dengan penuh kelaparan. Tega banget ni abang... ratapku dengan air mata yang semakin deras mengalir.

Mau telpon? Telpon kemana. Jaman SMA ku dulu tidak ada HP. Telpon rumahpun belum terpasang di rumah. Kalau aku diculik, pasti yang nyulik bakal bingung mo menghubungi siapa buat minta tebusan. Tapi untungnya tidak ada yang berminat buat menculik aku. duh melaseee...

30 menit berlalu...

60 menit berlalu...

Akhirnya kuputusin buat pulang sendiri ke rumah naik angkot yang otomatis harus oper dua kali sambil menahan mabuk darat. Ya Allah, lindungi hamba kecilmu ini...

Turun di jalan besar dan melanjutkan jalan menuju ke rumah dengan berjalan kaki. Maklum rumahku di desa. Jadi setelah turun jalan besar harus jalan kaki buat bisa sampai di rumah. Sampai di rumah, ternyata abangku sudah pulang duluan, Aaaarrrgggghhhhh....tega. Aku semakin menagis menjadi dan melaporkan semuanya ke ibuku. Aku marah. Benar-benar marah saat itu. Karena kejadian ini sudah berkali-kali terjadi. Tapi memang yang sebelumnya, aku selalu dijemput. Walau tetap saja harus menunggu, suweeee.... Tapi kali ini sangat keterlaluan. Abangku mengira aku sudah pulang dan dia memang lupa buat menjemputku.

Akhirnya sejak saat itu, aku mutusin buat bawa kendaraan sendiri, walau itu aku harus ngonthel dan berangkat pagi biar tidak telat.

Menunggu, bukan perkara yang mudah. Karena ada sesuatu yang diuji di sana. Hati, emosi dan pikiran kita. Mungkin aku dulu lebih banyak berpikir untuk emosi, marah dan tindakan negatif lainnya. Tapi sekarang aku berusaha menjadikan menunggu sebagai sebuah ujian hati, berapa sabarkah diriku. Ujian pikiran, seberapa kuat setan menggodamu untuk berpikir negatif. Ujian emosi, seberapa mampu kamu bisa tetap tersenyum. Karena mungkin orang yang sedang kita tunggu juga tidak ingin membuat kita menunggu. Walau menunggu itu harus menghasilkan kata suweeeee....

Semoga orang yang kita tunggu, berada dalam kondisi baik. Tidak terjadi apa-apa ataupun berada dalam kesulitan. Sehingga bisa segera datang dan bertemu dengan kita.

Nulis-nulis-nulis

Sudah lama tidak menulis. Karena memang merasa minder. Karena setiap nulis trus baca hasil tulisan kok jelek puol. Jadi semakin malas buat menulis. Dan akhirnya tidak menulis.

Pekan kemarin giliranku buat ngasih taujih dilikoan. Setelah dua minggu sebelumnya aku bingung jungkir balik, mikir, mo ngasih materi taujih apa. Materi taujih disesuaikan dengan bidang kerja yang sedang digeluti saat ini. Nah aku, opo yo? Akhirnya aku mengambil sisi jurnalistiknya, menulis. Walaupun bakal jadi munafik sekali buatku yang jarang dan susah sekali buat menulis.

Ternyata mencari materi taujih tentang menulis juga tidak mudah. Ampun. Beberapa buku sudah tak bolak-balik sapa tahu ada bahan yang cocok. Jalan-jalan dengan mbah gugel juga aku ladeni, tapi tetep ndak nemu. Akhirnya di saat injury time (entah kebiasaan atau emang sudah takdirnya) nemulah satu tulisan yang lumayan buat dijadiin bahan taujih. Alhamdulillah.

Seperti biasanya, karena likoku di saat yang tidak pas, aku selalu telat. Tapi Alhamdulilah ummi sudah memaklumi dan sabar banget. Pas dateng, semua langsung menunjukku buat segera taujih. Ya ampun mereka ini lagi nungguin aku tho? Padahal berharap kalau giliranku taujih diundur lagi. Hahaha...Ya sudahlah, dengerin ya teman-teman.

"Bismillah (semua mata menatapku, serius)....#$%^&%$#@*&%#&%$#^%&^&^%$*&*&^^&^%%$#@@$^&*&^%@#$#$#%^&^%$@%^&*..... Beginilah taujih dari saya. Semoga bermanfaat dan terimakasih"

Jujur, buat ngasih taujih itu, aku kurang sekali persiapannya. Jadi disamping niat yang cuman separo dan bahan yang minimalis, tidak menariklah pembawaanku. Dan sepertinya Ummi bisa membaca itu, jadi dia segera mengambil alih dan menambahkan beberapa cerita buat menguatkan materi taujih yang kubawakan. Terimakasih Ummi....

Menjadi orang munafik tidak enak. Tidak bagus buat pertumbuhan badan dan juga kehidupan akhirat. So, dari sini aku mulai mengawali lagi menulis.

Cemungudh ea qaqaaa

Selasa, 10 April 2012

Adzan

Suara yang akan sangat kita rindukan

Nanti,

Suatu waktu.

Sangat,

Rindu.

Tulis-tuliskan


Aku sudah lama tidak menulis.
Aku bingung mau menulis apa.
Punya hobi menulis, juga tidak.
Sebenarnya cukup kaku untuk memulai semua.
Bakat tidak ada,
Semangat sering turunnya,
Merana sekali diriku.
Sebenarnya, apa sulitnya menulis.
Tinggal menulis.
Tulis.
Dan tulis.
Menulis apa yang terlintas di pikiran
Menulis apa yang menjadi angan
Menulis apa yang mampu meringankan
Menulis-menulis-menulis
Aku menulis