Rabu, 28 Desember 2011

Komitmen

Suatu sore pekan kemarin, aku ketemuan rutin dengan adik-adikku. Seperti biasa, kami diskusi disitu. Namun saat itu entah ada hujan salju kali ya, jadinya yang datang cuman satu anak saja. Jadilah aku hanya kencan romantis berdua dengan salah satu adik yang datang itu.

Di tengah perjalanan diskusi kami, si adik tanya tentang memakai rok. Kurang lebih pertanyaannya seperti ini, "Mbak, kan kita pakai rok ya. Trus kalau kerja di bank dan disuruh pakai celana itu gimana mbak?. Soalnya teman saya ada yang kerja di bank dan dia memakai celana, tetapi kalau keluar bank pakai rok seperti aktivitas sehari-hari lainnya."

Ehm..ketika kita sudah berkomitmen dan berprinsip untuk memakai rok dengan keyakinan kita bahwa memakai rok (pastinya rok yang panjang, bukan rok mini atau rok jengki) adalah salah model baju yang diperbolehkan untuk dipakai perempuan, seharusnya kita bisa mengkondisikan sesuatu sesuai dengan kondisi kita. Salah satunya adalah kondisi tempat kerja. (itu menurutku lho ya...)

Ketika aku dulu memutuskan untuk memakai rok panjang dalam beraktivitas sehari-hari dan melapisi kakiku selalu dengan sepasang kaos kaki, tidak sedikit orang-orang yang mempertanyakan, apalagi keluarga dan teman-temanku di kampung. Dan petualanganku ke Surabaya ini menjadikan diriku pintar sekali nge-les. Jadi ketika ditanya, "Kenapa sih kok kamu pakai rok terus? Ndak ribet tuh?" Pastinya dengan entheng aku jawab, "Ya biar anggun lah. Apalagi kita sebagai perempuan, kan harus selalu tampil anggun" (sambil cekikikan dalam hati. Padahal aslinya masih juga pencilakan, loncat sana loncat sini kayak bajing loncat)

Pertanyaan tentang kaos kaki juga begitu, sering sekali keluar. "Kenapa tho, kok kamu kemana-mana pakai kaos kaki terus? Seperti orang sakit saja."

"Kalau siang, biar tidak hitam kakinya, trus kalau malam biar tidak kedinginan." dengan tersenyum-senyum sok manis gitu. Hahaha....

Dan alhamdulillah insyaAllah, orang-orang di sekelilingku sudah bisa menerima dan memahaminya. Termasuk ketika tanganku terkatup di dada saat orang yang bukan muhrimku mengajak salaman, sempat juga menjadi gunjingan orang-orang di daerahku. Tapi dengan cuek dan senyum manis yang selalu aku sunggingkan, membuat mereka jadi terbiasa.






"Ketika keyakinan dan prinsipmu itu adalah kebenaran, maka jangan ragu untuk mempertahankannya."









*Nuwun sewu gambar diambil di sini


Kamis, 22 Desember 2011

Polin in Lop


Boleh percaya apa tidak, aku saat ini sedang jatuh cinta.
Tidakkah kalian lihat, hari ini aku begitu bahagia dan bersemangat.
Karena, love makes me strong.

Mungkin beberapa hari yang lalu, aku tersungkur
Aku diam dalam ketidaktahuan
Kebingunganku membuatku terlelap dalam kelelahan

Namun, keyakinanku tidak memudar
Dalam dekapan malam, aku mengadu
Untuk bisa menguatkan hatiku

Kekuatan itu cepat sekali datang
Dalam bentuk kebahagian yang mendalam
Sebuah kehangatan cinta


1. Allah swt, sujud syukur hanya kepada-MU
2. Rasulullah saw, mungkin aku tak cukup tahu tentangmu, tetapi aku selalu merindukanmu
3. Ibu, dalam segala kehangatanmu, aku bersyukur memiliki ibu
4. Bapak, kekikukan bapak dalam penghayatan cinta semakin membuatku memahami keinginan bapak
5. Mbak dan mas ku, ayo bentuk panitia arisan kecil (g nyambung blas)
6. Teman-teman, terima kasih atas cinta kalian yang membantuku selama dalam perantauan.


*Nuwun sewu, gambar diambil di sini

Serius-Geje

Dua hari ini, menghabiskan waktu membaca blog orang-orang terkenal. Hehe...memang kurang kerjaan banget. Tetapi tenang saja, pekerjaan kantor alhamdulillah sudah selesai. Jadi tugas selanjutnya adalah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan belajar menulis (walaupun tetap saja kacau tulisannya).

Masih mengambil tema penulis yang sama, Tere Liye. Dalam garapan tulisannya yang berjudul perlu bakat untuk melakukannya. Di situ, dituliskan dan dipilih tentang beberapa sikap yang lumayan saling bertentangan. Dan dari sikap yang dipilihnya itu, sepertinya sesuai sekali dengan diriku.

Nah, karena tulisannya bang darwis (a.k.a Tere Liye), bisa diambil sebagai salah satu bahan untuk mendeskripsikanku, nah ini dia jawabanku atas pilihan sikap yang diambil oleh bang Darwis. Jawabannya adalah:
1. diplomatis atau blak-blakan (sepertinya aku adalah orang yang asal njeplak, apa adanya dan blak-blakan)
2. bermain aman atau memihak satu sisi dengan segala resikonya (kalau ini, aku agak plinplan. lihat-lihat sikon)
3. bermanis-manis atau judes (aku judes, tapi kalau sudah kenal bakal tahu lah aslinya bagaimana, hehe)
4. bijaksana atau cerewet (asli saya cerewet, suwer)
5. terlihat pintar atau terlihat bodoh (saya adalah orang bodoh yang sangat terlihat bodoh)

Dengan bersikap blak-blakan, mungkin kita akan senantiasa jujur. Tapi mungkin kita akan cenderung tidak berpikir akan efek kemudian.Bisa dibilang, telat mikire. Selain itu untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, mungkin memang disarankan bersikap judes, terutama kepada orang yang belum dikenal dan bersikap sedikit kurang wajar. Jadi kita sudah memberi pagar betis duluan.

Cerewet memberi efek sehat untuk wajah. Karena bisa dipakai sebagai sarana senam wajah (teori yang salah kaprah). Selain itu, cerewet, menurut saya adalah salah satu bentuk kepedulian kita akan sekitar. 

Dengan terlihat bodoh, kita tidak akan terlihat menggurui seseorang. Sehingga kita bisa melihat sisi lain orang tersebut dengan cara bicaranya saat berbicara dengan kita. Dan untuk saat ini saya telah memilih satu pilihan, walaupun banyak sekali di sekitar yang mulai meragukannya, tapi saya yakin dengan begitu mereka akan mencoba untuk terus mengamati dan mengetahui pilihan saya lebih dalam.

Nah, kalau masih belum percaya tentang kepribadian saya, bisa ditanyakan langsung kepada orang-orang yang namanya terpampang di blog ini.

Sekian, terimakasih o|^_^|o


Mati Hati


Pagi ini salah satu temanku meminta tolong. Dan tidak tanggung-tanggung, yaitu menyuruh aku berbohong. Terus terang perasaanku, bisa dilihat dari wajahku saat itu, pasti jadi pengen membuangnya ke laut saja. Karena wajahku memang jadi sangat kusut sekali. Aku sangat berat hati melakukan itu. Dan aku berusaha, sebisa mungkin untuk tidak berbohong.

Berbohong bukan merupakan hal yang sederhana bagiku. Dulu, aku pernah sering berbohong, Sampai bisa dibilang, enteng sekali rasanya berucap bohong. Dengan membuat alasan-alasan yang mungkin masuk akal, padahal sebenarnya tidak. Kepada teman, guru di sekolah, sampai kepada orang tua. Sialll....kenapa aku bisa sebodoh itu.

Teringat sebuah iklan, tentang seorang anak kecil yang ditanya ibunya dan berkata bohong. Trus pas sekolah, nyontek, Pas ketilang pak polisi, melakukan suap tempel. Pas sudah kerja, jadinya seorang koruptor. Bisa jadi kebiasaan anak dari kecil yang berbohong, membawa kebiasaan berbohong juga dalam bekerja, makanya jadi koruptor.

Sering kali aku bertanya sana-sini, untuk mencari kebenaran hukum dalam berbohong. Karena pernah kali, dapat informasi boleh berbohong kalau untuk kebaikan. Nah maksudnya gimana tuh?

Tetapi menurutku, sebaik apapun bentuk kebohongan, itu tetap merupakan kebohongan. Dan kebohongan itu buruk karena bisa berakhir kepada bentuk kemunafikan. Karena dengan satu kebohongan yang kecil akan bersambung ke kebohongan-kebohongan selanjutnya, dan jadilah besar bentuk kebohongan itu.

Serial film anak hasil buatan bangsa Jepang yang berjudul Chibi Maruko Chan, pernah mengangkat tema tentang berkata bohong. Di situ diceritakan si tokoh utama, Maruko melakukan kebohongan kepada ibunya saat ditanya tentang kotak kue yang ditaruh ibunya di dapur. Dari kebohongannya itu, bersambung ke kebohongan selanjutnya kepada kakeknya, kepada guru di sekolah dan juga kepada pak polisi yang sedang patroli saat itu. Awalnya, Maruko merasakan getar dada yang sangat, saat melakukan kebohongan. Namun ketika lama-lama dia merasa enteng untuk melakukan kebohongan, karena getar hatinya mulai hilang. 

Sebenarnya getar itu berasal dari nurani kita. Dia menjadi alarm seperti jam beker kita yang berbunyi saat setelan kebohongan telah dilalui. Dan apabila getar di hati sudah tidak ada, seharusnya kita sudah harus mulai waspada. Karena itu sebagai pertanda, bahwa nurani kita sudah mulai sakit. Sakit dengan segala bentuk kebaikan. Dan apabila tidak segera diobati, maka hati nurani itu akan mati. Dan kita akan benar-benar mati rasa, terutama saat melakukan kebohongan kita akan merasa biasa saja, enteng dan merasa tanpa dosa. Audzubillah...



*Nuwun sewu, gambar diambil di sini

Rabu, 21 Desember 2011

Hampa

Kemarin mendapat referensi dari teman kosan tentang blog-nya Tere Liye. Akhirnya di tengah kerjaan yang lumayan longgar hari ini, aku iseng-iseng membaca blog Tere Liye. Nemulah artikel yang berjudul Daftar Kebahagiaan Hidup. Nah disitu ditulisin beberapa point yang membuat orang jadi bahagia. Yaitu:
1. diterima di sekolah keren
2. bisa melanjutkan sekolah di LN
3. diterima bekerja di perusahaan hebat
4. punya rumah, mobil, dsbgnya baru
5. berkeluarga, punya anak
6. dpt rezeki nomplok
7. lulus ujian atau tamat sekolah, dsbgnya yg sejenis

Dan  kesimpulan yang tertulis, berbunyi: sayangnya, kalau hanya itu, daftar yg kita miliki itu beberapa poin sama dgn daftar yg dimiliki oleh koruptor, pemerkosa, peodofil, penganiaya, pencuri, dan orang2 lainnya. mereka juga bahagia karena itu. demikian.

Dulu, juga pernah kepikiran, Sebenarnya apa yang kita cari dalam hidup ini. Dan apa yang akan kita lakukan untuk hidup. Apakah hanya sekedar kita lahir, sekolah, kuliah, bekerja, menikah, mempunyai anak, tua dan mati. Dan mungkin akan sama dengan yang dikatakan oleh Tere Liye, kalau seperti itu kita juga tidak jauh beda dengan para koruptor, peodofil ataupun yang lainnya.

Hidup jadi terasa hampa, karena kebahagiaan kita hanya sekilas, yang hanya berbekas pada diri kita saja. Padahal kalau kita mau berbagi kebaikan dengan yang lain, akan kita dapatkan kebaikan yang berlimpah dari orang lain juga. Dan kebaikan itu akan berdampak kepada kebahagiaan yang bukan sekilas.
"Karena sesungguhnya setiap manusia itu sama, yang membedakan hanya ketakwaan kita kepada Allah swt. Dan salah satu bentuk dari kebaikan adalah ketakwaan kita kepada Allah swt."

*Nuwun sewu, gambar di ambil di sini


Rumah 1%


Sudah hampir 7 tahun lebih, aku merantau di Surabaya. Kota yang menjadi tempat tinggalku yang kedua. Atau lebih tepatnya, tempatku merebahkan badan dan mengarungi segudang petualangan yang terkadang sangat melelahkan. Dan kota ini mendapatkan jatah porsi waktu yang lebih banyak, daripada di kota tempat aku lahir, rumah pertamaku di Tulungagung.

Bisa dihitung berapa waktuku di rumahku yang pertama. Aku hanya pulang sebulan sekali. Berangkat dari Surabaya sekitar jam sebelas siang karena paginya ada agenda rutin setiap pekan. Naik kereta kurang lebih 5 jam perjalanan. Dan besoknya harus balik ke Surabaya lagi sekitar jam 14.00 supaya tidak terlalu malam sampai Surabaya. Jadi kalau dihitung, hanya sekitar 22 jam. Tidak sampai 24 jam. Dan itu terpotong waktu tidurku, waktu mandiku, waktu beres-beresku dan waktu lain-lainku. Dan hanya sedikit waktu untuk ibuku. Tapi ibu selalu ada untukku.

Walaupun 99% jatah porsiku ada di rumah kedua, rumah pertama selalu membawa kehangatan tersendiri. Karena ada ibu di sana. Dia yang selalu ada, mau mendengar setiap keluhku dan tak lupa juga seribu rentetan doanya selalu menyertaiku.

Oh, ibu..
Maafkan aku,
Walaupun aku tahu kalau aku sering membuatmu sedih, tapi aku masih juga tidak jera untuk mengulanginya lagi. 
Begitu tidak adilnya diriku terhadapmu, bu.
Kau selalu ada untukku, tapi aku selalu menghilang darimu.
Namun, aku sangatlah beruntung dan bersyukur mempunyai ibu seperti engkau.
Semoga Allah swt senantiasa merahmatimu, bu.

Selamat hari ibu,
Maafkan jika hari ini aku hanya bisa berucap lewat suara telepon bu.
Dan itupun terputus di jalan karena pulsa HP ku sekarat. (terlalu....)


Rentetan waktu telah bergulir,
Begitupun kasihmu,
Selalu melekat terasa,

Sejenak aku sadar akan khilafku,
Tapi sejuta waktu, aku melupakanmu,
Dan kau selalu ada di sampingku,

Oh ibu,
Ijinkan aku berucap maaf padamu,
Menghapus kesedihan di hatimu,
Memberi banyak senyum buatmu,