Rabu, 28 Desember 2011

Komitmen

Suatu sore pekan kemarin, aku ketemuan rutin dengan adik-adikku. Seperti biasa, kami diskusi disitu. Namun saat itu entah ada hujan salju kali ya, jadinya yang datang cuman satu anak saja. Jadilah aku hanya kencan romantis berdua dengan salah satu adik yang datang itu.

Di tengah perjalanan diskusi kami, si adik tanya tentang memakai rok. Kurang lebih pertanyaannya seperti ini, "Mbak, kan kita pakai rok ya. Trus kalau kerja di bank dan disuruh pakai celana itu gimana mbak?. Soalnya teman saya ada yang kerja di bank dan dia memakai celana, tetapi kalau keluar bank pakai rok seperti aktivitas sehari-hari lainnya."

Ehm..ketika kita sudah berkomitmen dan berprinsip untuk memakai rok dengan keyakinan kita bahwa memakai rok (pastinya rok yang panjang, bukan rok mini atau rok jengki) adalah salah model baju yang diperbolehkan untuk dipakai perempuan, seharusnya kita bisa mengkondisikan sesuatu sesuai dengan kondisi kita. Salah satunya adalah kondisi tempat kerja. (itu menurutku lho ya...)

Ketika aku dulu memutuskan untuk memakai rok panjang dalam beraktivitas sehari-hari dan melapisi kakiku selalu dengan sepasang kaos kaki, tidak sedikit orang-orang yang mempertanyakan, apalagi keluarga dan teman-temanku di kampung. Dan petualanganku ke Surabaya ini menjadikan diriku pintar sekali nge-les. Jadi ketika ditanya, "Kenapa sih kok kamu pakai rok terus? Ndak ribet tuh?" Pastinya dengan entheng aku jawab, "Ya biar anggun lah. Apalagi kita sebagai perempuan, kan harus selalu tampil anggun" (sambil cekikikan dalam hati. Padahal aslinya masih juga pencilakan, loncat sana loncat sini kayak bajing loncat)

Pertanyaan tentang kaos kaki juga begitu, sering sekali keluar. "Kenapa tho, kok kamu kemana-mana pakai kaos kaki terus? Seperti orang sakit saja."

"Kalau siang, biar tidak hitam kakinya, trus kalau malam biar tidak kedinginan." dengan tersenyum-senyum sok manis gitu. Hahaha....

Dan alhamdulillah insyaAllah, orang-orang di sekelilingku sudah bisa menerima dan memahaminya. Termasuk ketika tanganku terkatup di dada saat orang yang bukan muhrimku mengajak salaman, sempat juga menjadi gunjingan orang-orang di daerahku. Tapi dengan cuek dan senyum manis yang selalu aku sunggingkan, membuat mereka jadi terbiasa.






"Ketika keyakinan dan prinsipmu itu adalah kebenaran, maka jangan ragu untuk mempertahankannya."









*Nuwun sewu gambar diambil di sini


Kamis, 22 Desember 2011

Polin in Lop


Boleh percaya apa tidak, aku saat ini sedang jatuh cinta.
Tidakkah kalian lihat, hari ini aku begitu bahagia dan bersemangat.
Karena, love makes me strong.

Mungkin beberapa hari yang lalu, aku tersungkur
Aku diam dalam ketidaktahuan
Kebingunganku membuatku terlelap dalam kelelahan

Namun, keyakinanku tidak memudar
Dalam dekapan malam, aku mengadu
Untuk bisa menguatkan hatiku

Kekuatan itu cepat sekali datang
Dalam bentuk kebahagian yang mendalam
Sebuah kehangatan cinta


1. Allah swt, sujud syukur hanya kepada-MU
2. Rasulullah saw, mungkin aku tak cukup tahu tentangmu, tetapi aku selalu merindukanmu
3. Ibu, dalam segala kehangatanmu, aku bersyukur memiliki ibu
4. Bapak, kekikukan bapak dalam penghayatan cinta semakin membuatku memahami keinginan bapak
5. Mbak dan mas ku, ayo bentuk panitia arisan kecil (g nyambung blas)
6. Teman-teman, terima kasih atas cinta kalian yang membantuku selama dalam perantauan.


*Nuwun sewu, gambar diambil di sini

Serius-Geje

Dua hari ini, menghabiskan waktu membaca blog orang-orang terkenal. Hehe...memang kurang kerjaan banget. Tetapi tenang saja, pekerjaan kantor alhamdulillah sudah selesai. Jadi tugas selanjutnya adalah memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan belajar menulis (walaupun tetap saja kacau tulisannya).

Masih mengambil tema penulis yang sama, Tere Liye. Dalam garapan tulisannya yang berjudul perlu bakat untuk melakukannya. Di situ, dituliskan dan dipilih tentang beberapa sikap yang lumayan saling bertentangan. Dan dari sikap yang dipilihnya itu, sepertinya sesuai sekali dengan diriku.

Nah, karena tulisannya bang darwis (a.k.a Tere Liye), bisa diambil sebagai salah satu bahan untuk mendeskripsikanku, nah ini dia jawabanku atas pilihan sikap yang diambil oleh bang Darwis. Jawabannya adalah:
1. diplomatis atau blak-blakan (sepertinya aku adalah orang yang asal njeplak, apa adanya dan blak-blakan)
2. bermain aman atau memihak satu sisi dengan segala resikonya (kalau ini, aku agak plinplan. lihat-lihat sikon)
3. bermanis-manis atau judes (aku judes, tapi kalau sudah kenal bakal tahu lah aslinya bagaimana, hehe)
4. bijaksana atau cerewet (asli saya cerewet, suwer)
5. terlihat pintar atau terlihat bodoh (saya adalah orang bodoh yang sangat terlihat bodoh)

Dengan bersikap blak-blakan, mungkin kita akan senantiasa jujur. Tapi mungkin kita akan cenderung tidak berpikir akan efek kemudian.Bisa dibilang, telat mikire. Selain itu untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan, mungkin memang disarankan bersikap judes, terutama kepada orang yang belum dikenal dan bersikap sedikit kurang wajar. Jadi kita sudah memberi pagar betis duluan.

Cerewet memberi efek sehat untuk wajah. Karena bisa dipakai sebagai sarana senam wajah (teori yang salah kaprah). Selain itu, cerewet, menurut saya adalah salah satu bentuk kepedulian kita akan sekitar. 

Dengan terlihat bodoh, kita tidak akan terlihat menggurui seseorang. Sehingga kita bisa melihat sisi lain orang tersebut dengan cara bicaranya saat berbicara dengan kita. Dan untuk saat ini saya telah memilih satu pilihan, walaupun banyak sekali di sekitar yang mulai meragukannya, tapi saya yakin dengan begitu mereka akan mencoba untuk terus mengamati dan mengetahui pilihan saya lebih dalam.

Nah, kalau masih belum percaya tentang kepribadian saya, bisa ditanyakan langsung kepada orang-orang yang namanya terpampang di blog ini.

Sekian, terimakasih o|^_^|o


Mati Hati


Pagi ini salah satu temanku meminta tolong. Dan tidak tanggung-tanggung, yaitu menyuruh aku berbohong. Terus terang perasaanku, bisa dilihat dari wajahku saat itu, pasti jadi pengen membuangnya ke laut saja. Karena wajahku memang jadi sangat kusut sekali. Aku sangat berat hati melakukan itu. Dan aku berusaha, sebisa mungkin untuk tidak berbohong.

Berbohong bukan merupakan hal yang sederhana bagiku. Dulu, aku pernah sering berbohong, Sampai bisa dibilang, enteng sekali rasanya berucap bohong. Dengan membuat alasan-alasan yang mungkin masuk akal, padahal sebenarnya tidak. Kepada teman, guru di sekolah, sampai kepada orang tua. Sialll....kenapa aku bisa sebodoh itu.

Teringat sebuah iklan, tentang seorang anak kecil yang ditanya ibunya dan berkata bohong. Trus pas sekolah, nyontek, Pas ketilang pak polisi, melakukan suap tempel. Pas sudah kerja, jadinya seorang koruptor. Bisa jadi kebiasaan anak dari kecil yang berbohong, membawa kebiasaan berbohong juga dalam bekerja, makanya jadi koruptor.

Sering kali aku bertanya sana-sini, untuk mencari kebenaran hukum dalam berbohong. Karena pernah kali, dapat informasi boleh berbohong kalau untuk kebaikan. Nah maksudnya gimana tuh?

Tetapi menurutku, sebaik apapun bentuk kebohongan, itu tetap merupakan kebohongan. Dan kebohongan itu buruk karena bisa berakhir kepada bentuk kemunafikan. Karena dengan satu kebohongan yang kecil akan bersambung ke kebohongan-kebohongan selanjutnya, dan jadilah besar bentuk kebohongan itu.

Serial film anak hasil buatan bangsa Jepang yang berjudul Chibi Maruko Chan, pernah mengangkat tema tentang berkata bohong. Di situ diceritakan si tokoh utama, Maruko melakukan kebohongan kepada ibunya saat ditanya tentang kotak kue yang ditaruh ibunya di dapur. Dari kebohongannya itu, bersambung ke kebohongan selanjutnya kepada kakeknya, kepada guru di sekolah dan juga kepada pak polisi yang sedang patroli saat itu. Awalnya, Maruko merasakan getar dada yang sangat, saat melakukan kebohongan. Namun ketika lama-lama dia merasa enteng untuk melakukan kebohongan, karena getar hatinya mulai hilang. 

Sebenarnya getar itu berasal dari nurani kita. Dia menjadi alarm seperti jam beker kita yang berbunyi saat setelan kebohongan telah dilalui. Dan apabila getar di hati sudah tidak ada, seharusnya kita sudah harus mulai waspada. Karena itu sebagai pertanda, bahwa nurani kita sudah mulai sakit. Sakit dengan segala bentuk kebaikan. Dan apabila tidak segera diobati, maka hati nurani itu akan mati. Dan kita akan benar-benar mati rasa, terutama saat melakukan kebohongan kita akan merasa biasa saja, enteng dan merasa tanpa dosa. Audzubillah...



*Nuwun sewu, gambar diambil di sini

Rabu, 21 Desember 2011

Hampa

Kemarin mendapat referensi dari teman kosan tentang blog-nya Tere Liye. Akhirnya di tengah kerjaan yang lumayan longgar hari ini, aku iseng-iseng membaca blog Tere Liye. Nemulah artikel yang berjudul Daftar Kebahagiaan Hidup. Nah disitu ditulisin beberapa point yang membuat orang jadi bahagia. Yaitu:
1. diterima di sekolah keren
2. bisa melanjutkan sekolah di LN
3. diterima bekerja di perusahaan hebat
4. punya rumah, mobil, dsbgnya baru
5. berkeluarga, punya anak
6. dpt rezeki nomplok
7. lulus ujian atau tamat sekolah, dsbgnya yg sejenis

Dan  kesimpulan yang tertulis, berbunyi: sayangnya, kalau hanya itu, daftar yg kita miliki itu beberapa poin sama dgn daftar yg dimiliki oleh koruptor, pemerkosa, peodofil, penganiaya, pencuri, dan orang2 lainnya. mereka juga bahagia karena itu. demikian.

Dulu, juga pernah kepikiran, Sebenarnya apa yang kita cari dalam hidup ini. Dan apa yang akan kita lakukan untuk hidup. Apakah hanya sekedar kita lahir, sekolah, kuliah, bekerja, menikah, mempunyai anak, tua dan mati. Dan mungkin akan sama dengan yang dikatakan oleh Tere Liye, kalau seperti itu kita juga tidak jauh beda dengan para koruptor, peodofil ataupun yang lainnya.

Hidup jadi terasa hampa, karena kebahagiaan kita hanya sekilas, yang hanya berbekas pada diri kita saja. Padahal kalau kita mau berbagi kebaikan dengan yang lain, akan kita dapatkan kebaikan yang berlimpah dari orang lain juga. Dan kebaikan itu akan berdampak kepada kebahagiaan yang bukan sekilas.
"Karena sesungguhnya setiap manusia itu sama, yang membedakan hanya ketakwaan kita kepada Allah swt. Dan salah satu bentuk dari kebaikan adalah ketakwaan kita kepada Allah swt."

*Nuwun sewu, gambar di ambil di sini


Rumah 1%


Sudah hampir 7 tahun lebih, aku merantau di Surabaya. Kota yang menjadi tempat tinggalku yang kedua. Atau lebih tepatnya, tempatku merebahkan badan dan mengarungi segudang petualangan yang terkadang sangat melelahkan. Dan kota ini mendapatkan jatah porsi waktu yang lebih banyak, daripada di kota tempat aku lahir, rumah pertamaku di Tulungagung.

Bisa dihitung berapa waktuku di rumahku yang pertama. Aku hanya pulang sebulan sekali. Berangkat dari Surabaya sekitar jam sebelas siang karena paginya ada agenda rutin setiap pekan. Naik kereta kurang lebih 5 jam perjalanan. Dan besoknya harus balik ke Surabaya lagi sekitar jam 14.00 supaya tidak terlalu malam sampai Surabaya. Jadi kalau dihitung, hanya sekitar 22 jam. Tidak sampai 24 jam. Dan itu terpotong waktu tidurku, waktu mandiku, waktu beres-beresku dan waktu lain-lainku. Dan hanya sedikit waktu untuk ibuku. Tapi ibu selalu ada untukku.

Walaupun 99% jatah porsiku ada di rumah kedua, rumah pertama selalu membawa kehangatan tersendiri. Karena ada ibu di sana. Dia yang selalu ada, mau mendengar setiap keluhku dan tak lupa juga seribu rentetan doanya selalu menyertaiku.

Oh, ibu..
Maafkan aku,
Walaupun aku tahu kalau aku sering membuatmu sedih, tapi aku masih juga tidak jera untuk mengulanginya lagi. 
Begitu tidak adilnya diriku terhadapmu, bu.
Kau selalu ada untukku, tapi aku selalu menghilang darimu.
Namun, aku sangatlah beruntung dan bersyukur mempunyai ibu seperti engkau.
Semoga Allah swt senantiasa merahmatimu, bu.

Selamat hari ibu,
Maafkan jika hari ini aku hanya bisa berucap lewat suara telepon bu.
Dan itupun terputus di jalan karena pulsa HP ku sekarat. (terlalu....)


Rentetan waktu telah bergulir,
Begitupun kasihmu,
Selalu melekat terasa,

Sejenak aku sadar akan khilafku,
Tapi sejuta waktu, aku melupakanmu,
Dan kau selalu ada di sampingku,

Oh ibu,
Ijinkan aku berucap maaf padamu,
Menghapus kesedihan di hatimu,
Memberi banyak senyum buatmu,

Rabu, 23 November 2011

Aku, Dirimu, Dirinya

"...Aku , dirimu , dirinya
Tak akan pernah mengerti tentang suratan
Aku , dirimu , dirinya
Tak resah bila sadari Cinta takkan salah..."

Sapa yang tahu lirik lagu di atas?
Yap, bener. Itu adalah salah satu lirik lagunya Kahitna yang berjudul, Aku, Dirimu, Dirinya.
Tapi, kali ini aku tidak akan membahas itu. Aku akan membahas yang lain. (hahaha...emang tidak akan nyambung sepertinya. Sabar ye, itu hanya lagu pembukaku hari ini di kantor)

Kalau dibilang, sudah waktunya, mungkin memang sudah. Karena sekarang aku sudah berumur seperempat abad lebih. (walau lebihnya cuman sebulan-dua bulan). Dan aku juga tidak heran, ketika orang-orang di sekelilingku selalu ngobrolin tentang hal itu. Eh, sudah nyambung kan aku ngomongin apa? Syukurlah...Acungan jempol 100 buat yang telah menjawab dengan benar.


Semua ini tentang menikah. Kata-kata yang biasa sebenarnya. Tapi kalau pas tanya ke aku dan aku lagi kena serangan negara api, jangan harap bisa terima senyumanku. (hahahaha...kejam amat ya!!).

Menikah, kata orang membuat kita lebih aman. Aman dari godaan yang semakin hari semakin menggila. Entah godaan seperti apa itu, mungkin kalian lebih tahu. Aku? Iya, aku juga ingin menikah, tapi di waktu yang tepat, dengan orang yang tepat dan tempat yang tepat untuk bertemu. Kapan itu? Semua masih menjadi misteri Ilahi... (berharap ada yang mendoakan, semoga segera kejadian, dan aku akan teriak...Aamiin..... :D)

Tidak jarang aku diskusi dengan teman-teman tentang hal ini. Dengan mereka yang sudah ngerasain ato yang belum.
Pesan salah dua yang sudah menikah : "mumpung kamu belum menikah, nikmati hidupmu sepuas-puasmu. Dolan-dolanno sak pengenmu (Main-mainlah sesukamu), karena nanti kalau sudah menikah, hal lain yang akan menjadi pikiranmu."
Yang belum :
1. "kapan ya aku nikah?" (kamu nanya aku, trus aku nanya sapa?)
2. "aku belum siap.." (well...sak karepmu :) )
3. "menikah butuh komitmen dan tanggung jawab" (iye, gue setuju ma elo)
4. "seandainya menikah itu bukan merupakan sunnah Rasul, mungkin aku tidak akan melakukannya" (iiihhhh...serem, aku ga melu-melu wes)
5. dll, dsb, dst

Seperti salah satu temanku bilang juga, "Menikah bukan perkara setahun dua tahun, tapi seumur hidup. Jadi kita harus benar-benar menemukan "the right one" buat jadi imam kita." (dan aku menambahkan dalam hati, "walaupun itu membutuhkan berjuta-juta tahun untuk bisa menemukannya"....hahaha, kalau itu ketemu di akhirat dong)

Menikah bukan perkara yang mudah, tapi dia juga bukan sesuatu yang sulit. Dan yang pasti, apakah kita sudah siap untuk bertanggungjawab dan berkomitmen?

"Kadangkala aku bertanya
dimana cinta berada
tersembunyi tiada kunjung menghampiri

Dua angsa memadu rindu

di danau biru bercumbu
pagut sepi ku di sini
letih hati

Begitu jauh

waktu ku tempuh
sendiri mengayuh
biduk kecil, hampa berlayar
akankah berlabuh ?
hanya diam
menjawab kerisauan

Kadangkala aku berkhayal

seorang di ujung sana
juga tengah menanti
tiba saatnya

Begitu ingin

berbagi batin
mengarungi hari
yang berwarna
dimana dia
pasangan jiwaku ?
ku mengejar bayangan

kian menghilang

penuh berhara"
by: Kla Project

*gambar diambil di sini

Senin, 21 November 2011

Selamat Datang Ngalam

17 September 2011
"Selamat datang Malang...." sambutku kepada teman-teman yang sama-sama ikutan mbolang di Malang. Lia, Afifah dan Nuri

Stasiun Malang Kotabaru di malam hari

Pilihan mbolang kedua setelah Semarang. Tetapi dengan personel yang berbeda. Oh ya, aku lupa belum menceritakan pengalaman mbolang-ku yang pertama di Semarang. InsyaAllah lain waktu aku akan cerita. Saat ini aku lagi semangat untuk cerita tentang Malang.

Awalnya hanya sekedar ingin mbolang. Namun teman sekamarku, menawarkan alternatif lebih. Tidak sekedar mbolang. Okelah, kali ini aku setuju denganmu.

Ide ini digagas sebulan yang lalu, sekitar bulan Ramadhan 1432 H. Ketika Lia, dapat info dari adik kelasnya. Info tentang seminar kepribadian yang dibawakan oleh Oky Setiyana Dewi (salah satu pemeran utaman dalam film KCB) dan juga penulis buku, Salim A.Fillah yang diselenggarakan oleh FIA-UB. Dan langsung disebarlah itu sms ke aku dan beberapa temannya. Dan untuk meramaikan, aku menyebarkannya juga ke beberapa teman (konon katanya kalau tidak disebar akan terkena musibah, hahaha).

Setelah mengumpulkan massa, H min 4 hari lebaran akhirnya si ketua rombongan, Lia (ketua rombongan otomatis), melakukan transaksi dengan si empunya kegiatan. 8 orang fix berangkat.

"Manusia hanya bisa berusaha, tetapi tetap Allah swt yang menentukan".
Kalimat yang cocok buat rombongan kami waktu itu. Si ketua panitia, beberapa hari sebelum keberangkatan memang memastikan kepada para kru ombongan untuk persiapannya. Mulai dari waktu keberangkatan, transportasi yang dipakai, sampai tempat buat kita menginap. Dan ternyata yang jadi berangkat ada enam orang. Itupun karena ada tambahan satu orang lagi, yang aslinya hanya lima orang. Karena keterbatasan info yang diperoleh, akhirnya kami ber-enam berangkat tidak barengan. Dua orang dari rombongan menyusul naik bis umum. Kita sudah berusaha, tetapi tetap ada yang Lebih Berkuasa untuk Menentukan.

Jadwal kereta kami jam 15.20 wib. Kereta ekonomi Penataran tujuan Surabaya-Blitar lewat Malang. Dan kami baru sampai di stasiun jam 15.30 wib tepat. (gud....). Demi menjaga kualitas kinerja dan peningkatan pelayanan, PT.KAI sudah mulai memberlakukan jadwal keberangkatan kereta yang on-time. Jadi kita ketinggalan kereta. Tapi alhamdulillah, ternyata masih ada jadwal kereta selanjutnya jam 16.20 wib.

Peminat kereta api ekonomi yang berjudul Penataran ini ternyata mempunyai banyak peminat. Jadi bagi kalian yang tergabung dalam fans club kereta api penataran, siap-siaplah bertarung memperebutkan kursi panas agar tidak mengalami pegal-linu (alias berdiri) saat perjalanan, apalagi perjalanan jauh.

Ngalam (bahasa khas orang Malang, yang suka membolak-mbalik kata), kami datang. Hua...seger. Kita seperti orang yang pertama kali saja menginjakkan kaki di Malang. Padahal juga sudah berkali-kali. Tapi suasana adem yang ada di sono, membuat kita sok seru, apalagi kalau di banding dengan Surabaya yang selalu panas. (Maklum wong kutho....:D)

Percaya atau tidak, kita nyampe di sana belum tahu mo nginep di mana jadinya. Karena teman yang berencana mo kita inepin, belum juga ada konfirmasi balasan sms. Info terakhir yang kita dapat, kita di inepin di asrama Etos cabang Universitas Brawijaya. Naik angkot AL trus turun depan UIN Malang. Trus habis gitu, ilang. Maksudnya belum ada kabar lanjutan, habis dari UIN kita menuju kemana. Maklum masih buta dengan kota Malang.

Berhubung kita kelaparan, dan kabar dari teman yang diinepin belum juga kunjung datang, akhirnya kita mutusin buat makan malam. Tengok kiri kanan ada beberapa warung makan yang buka dengan berbagai menu yang beraneka rupa. Dan pilihan jatuh pada warung "Indy" yang jual nasi uduk dengan berbagai jenis lauk.

Lia, "Bu, saya pesan nasi uduk dengan lauk ayam bakar."
Tyas, "Bu, saya pesan nasi uduk dengan lauk telor bali sama *** (lupa namanya apa)"
Nuri, "Bu, saya pesan pesan nasi rawon."
Afifah, "Bu, saya pesan nasi pecel dengan lauk paru."

Jadilah kami berempat melahap makanan, untungnya tidak sampai seperti orang yang kesetanan karena kelaparan. Sambil disambi sms-in, nelpunin mbak yang mo kita inepin malam ini.

Kebetulan aku dan Lia selesai makan duluan, jadi kami cabut duluan buat celingukan nyari em-mbak yang mo kita inepin yang ternyata sudah membalas sms kita. Dan ahaaaa...alhamdulillah mak, ketemu. Mbak-nya juga lagi celingkukan ternyata. Biasanya kalau ada orang yang saling celingkukan, berarti dua orang itu sedang saling mencari. Dan ini telah kami buktikan. (Bukti yang tidak valid).

Akhirnya kita semua sudah menyelesaikan makan dan dengan semangat mengangkat barang-barang menuju tkp, yaitu asrama Etos cabang Universitas Brawijaya. Tidak jauh juga ternyata, karena tidak lebih dari 5 menit kami sudah sampai.

Dengan sedikit berbasa-basi dan sedikit malu-malu (padahal malu-maluin) kami memasuki rumah itu. Dan baru aku tahu, bahwa kedatangan kita telah melewati jam malam di sana yaitu jam 8. (Padahal kalau di Surabaya jam 9 aja sepertinya masih kurang malam, karena masih banyak yang melanggar). Terus terang kami jadi ndak enak hati, merepotkan dan telah membuat pelanggaran terhadap jam malam yang berlaku di sana. Tapi nasi sudah terlanjur menjadi bubur, maafin kami ya dulur... Dan satu kesalahan lagi kami buat, yaitu ada 2 orang lagi yang masih tertinggal di jalan karena tadi naik bus dan kena macet. Mereka adalah Nastiti dan mbak Fitri. Akhirnya, dengan segala rasa malu yang sudah tidak berbentuk lagi, kami minta kepada mbak yang tadi yang ternyata adalah supervisor dari asrama tersebut untuk meminjam kunci. Supaya mbak nya bisa beristirahat dengan tenang. Aamiin... (loh????...)

Di tengah kegelapan dan kesepian jalan di gang itu, aku dan Lia menyusuri jalan berdua, untuk menjemput dua makhluk yang tertinggal tadi. Dan hureeeeee...ketemu. Alhamdulillah ya Allah, ketemu. Ternyata dua makhluk tersebut sedang enaknya nongkrong sambil mikir, "makan apa ya?", karena ternyata mereka belum makan juga. (kasihan....). Ya wes, di warung Indy yang Alhamdulillah (sepertinya malam itu, kami memang harus banyak-banyak bersyukur, karena begitu banyak limpahan rahmat yang telah diberikan-NYA) masih buka, "Bu, bungkus nasi lagi. Satu aja."

"Loh kok cuman satu?" tanya batinku. Ternyata sebelum kalimat itu keluar dari mulutku, salah satu mereka sudah bilang duluan, "Aku beli nasi goreng aja," (Ooooo....oke)

"Bang, bungkus nasi gorengnya satu ya."

Gang asrama di waktu pagi

Sesampainya kita semua di asrama, baru nyadar kalau kita adalah orang-orang yang ramai dan lupa kalau kita lagi numpang di tempat orang. So, pecahlah suara seperti pasar.

"Eh wes bengi, ayo turu-turu...."

18 September 2011
"Pagiiii...." riuhnya kami menyapa adik-adik asrama yang terlihat masih cukup ingin memanjakan diri di pulau kasur. Namun mbak supervisor cukup tegas juga, jadilah semua sholat berjamaah dan berlanjut merapalkan doa dan puji-pujian pagi secara berjamaah juga. 

"Mbak, kita ijin jalan-jalan dulu ya...." kata kita,

"Iya, nanti saya berangkat dulu. Nanti kalian bareng dengan adik-adik yang asrama ya." kata mbak supervisor

"Baik kakaakkkk...." kata kita kompak (obrolan ini cukup aku lebih-lebihkan kok. Jadi jangan khawatir, kami tidak semanja itu. haha)

Yo wes, kita muter-muter kampus UIN malang dan juga kampus Unibraw bagian belakang.

Olahraga pagi keliling gedung kampus UIN Malang

Beristirahat sambil nampang

Di satu lorong kampus UIN Malang

Kampus UIN Malang

Salah satu lorong jalan setapak di kampus Unibraw

Kita pulang ke asrama, packing dan siap-siap meluncur ke tkp. Gedung Pertamina Unibraw.

Berulah sambil menuju ke tkp

Nampang dulu juga boleh

Wow, ternyata ada ular di sini. Ups...maksudnya antrinya mengular. Dan peminat terbesar adalah... ya anda benar. Mahasiswa putri. "Oke bro, kita ngantri dulu kalau begitu..."kata sang kapten.

Antrinya sampai terjepit di pojokan sono noh...

Akhirnya kita bisa masuk juga....

 Adem


Dan kita akhirnya berpose bebarengan dengan si tuan rumah sebelum akhirnya kabur buat kembali ke kota perjuangan, Surabaya tercinta.



Sampailah kita di stasiun Kotabaru Malang



Bye..bye..Malang.
kapan-kapan ketemu lagi ya...

Gambar : by jepretan Tyas dkk

Minggu, 20 November 2011

Jogjakarta

Jogjakarta, siapa yang tidak kenal engkau. Kota unik yang penuh dengan magnet sejuta kenangan walau kita hanya sekali mampir ke sana.

29 Oktober 2011

Kali kedua, aku menjejakkan kaki di tanah Jogja. Dengan tujuan awal yang memang tidak jelas aku dan beberapa teman nekat berangkat ke sana. Berangkat dari stasiun Gubeng Surabaya sekitar jam 6 pagi naik kereta api pasundan dengan tujuan akhir stasiun Kiaracondong Bandung. Tapi rombonganku tidak berhenti di situ, melainkan di stasiun Lempuyangan Jogja.

Nyampe di stasiun, trus kemana? Terlihat banyak sekali tanda tanya yang melayang-layang di kepalaku dan teman-teman. Oke habis gitu kita nyari penginapa dulu. Karena kita semua cewek dan tidak mungkin tidur di masjid kan? Apa kata dunia?????

Ketemu!! Kita menginap di sekitar jalan Malioboro. Lumayan deket dengan pusat kota Jogja, Keraton Jogja.

Waktu itu sudah masuk musim penghujan. Jadi suasana sekitar Malioboro cukup mendung. Seperti ini:
"Sampah bikin Jogja gerah"

Menyusuri jalanan Malioboro sore hari ditemani rintik-rintik gerimis jarang, semakin menambah keromantisan waktu itu. (Tapi langsung bikin pilek. Hee). Walaupun begitu, aktifitas di situ tidak mati. Masih banyak aksi tawar menawar dalam jualan maupun penawaran jasa.
 Tukang parkir yang sedang sibuk menghitung sejumlah uang hasil kerjanya

 Tukang becak yang asik bercengkerama sambil menunggu penumpang datang

 "Rujak buah-rujak buah.."

 Penjual rokok (asongan)

Mbah-mbah penjual buah (murah pisan buahnya...)

Gerimis berhenti, tapi mendung hitam masih menggelayuti seluruh langit Jogja. Sore yang terang semakin terlihat gelap.

Walau mendung, pak becak masih setia menunggu penumpang di lapangan depan Keraton Jogja

 Lapangan depan Keraton Jogja

Pedagang asongan masih asyik menjajakan dagangannya


Karena capek sudah merasuki badan kita semua, akhirnya dengan sedikit desakan dari hujan yang mulai turun deras, kami memutuskan untuk menuju penginapan kami. Sambil menghimpun kekuatan untuk aktifitas besok.

30 Oktober 2011
Ternyata pagi di Jogja cukup dingin. Kebiasaan tubuh yang sudah akrab dengan panasnya Surabaya, langsung membuat hidung buntu. Tapi untungnya, air di kamar mandi tidak begitu dingin.

Setelah semua selesai berbenah kamar, maka siaplah kami untuk melangsungkan aktifitas hari ini. Untuk perjalanan kali ini rombongan di bagi menjadi dua. Rombongan pertama menuju pasar Bringharjo untuk belanja beberapa barang untuk keperluan bisnis yang sedang digelutinya. Rombongan kedua mendapat tugas tambahan, mencari tiket pulang dan selanjutnya meluncur ke candi Prambanan. Dan kebetulan aku ada di rombongan kedua.

Bapak supir andong yang siap mengantar kita ke stasiun Lempuyangan untuk membeli tiket pulang

Alhamdulillah tiket sudah di tangan. Dan siap meluncur ke Prambanan. Menaiki Trans Jogja dengan harga tiket Rp 3.000,00, kami di antar sampai di shelter Prambanan. Perjalanan yang cukup jauh membuatku terlelap sebentar di dalam bus. Dan ahayyy...alhamdulillah pucuk candi Prambanan sudah terlihat.


 Runtuhan candi-candi kecil yang belum selesai dipugar



 Beberapa pelajar yang sedang melatih bicara bahasa inggris dengan salah satu turis





Selesai muter-muter Prambanan, menuju ke shelter Trans Jogja lagi untuk kembali ke Malioboro. Namun setiba di sana, harus antri lama, karena Trans Jogja yang sedang terparkir di situ sedang diperbaiki. Kurang lebih selama satu jam aku dan rombongan kedua terdampar di situ.

Anak kecil yang bernasib sama dengan saya

Sampai akhirnya bus yang ditunggu-tunggu datang. Dan seperti perjalanan sebelumnya, rasa capek yang semakin menyelimuti menyihir saya untuk semakin cepat terlelap. Tidurr...!!!!
Sesekali terbangun dan mengintip ke luar jendela. Hujan. Dan aku kembali terlelap...
Sampai akhirnya tiba di Malioboro dengan kondisi jalanan basah dengan hujan yang masih meninggalkan rintiknya untuk bisa menyapa kami ketika turun dari bus Trans Jogja. Dengan sedikit berlari, aku dan rombongan bergerak cepat menuju ke penginapan.

Dan alhamdulillah, setelah selesai sholat, packing dan pamitan sama yang punya penginapan (alias check-in) kita berangkat menuju ke stasiun Lempuyangan dengan udara yang sudah panas. (memang cuaca sekarang susah untuk ditebak). 
Sesampai di stasiun, dengan membawa barang-barang yang cukup membuat wajah kita tidak terlihat (karena saking banyaknya, termasuk hasil belanjaan rombongan pertama, haha...) kita seperti TKI yang baru diusir majikannya, keleleran di pinggir rel kereta api. Karena kebetulan, kursi-kursi yang disiapkan di stasiun telah dipenuhi oleh penumpang yang lain. Tak apalah, alhamdulillah kita orangnya nrimo (loh...hehe).
Kurang lebih satu jam berselang kereta api yang ditunggu sampai juga di stasiun. Lalu naiklah kita ke dalam kereta. Dan menduduki singgasana di dalam kereta setelah berhasil mengusir orang yang menduduki tempat duduk yang nomornya tertera di tiket kami. (hahaha...maaf kalau kami kejam).

Surabaya, aku datang.
Jogja, tunggulah diriku. Aku akan datang lagi, InsyaAllah...


Gambar : hasil jepretan pribadi (Tyas)

Rabu, 02 November 2011

Sabar dan Marah-beda tipis

Aku marah padamu, tapi itu membuatku sakit
Aku marah padamu, tapi itu membuatku kehilangan
Aku marah padamu, tapi aku tidak mau

Astaghfirullah,
Aku berusaha berucap dzikir seratus bait
Berusaha mencoba sabar
Menghapus marah yang telah tertanam

Aku tahu inilah diriku,
Aku tahu kelemahanku,
Aku tahu itu,

Maaf kalau aku marah padamu,

Rabu, 19 Oktober 2011

3 Tahun


"Setiap peristiwa, selalu menjadi kenangan manis"

Selamat dan sukses kepada wisudawan ITS angkatan-98,
Terutama untuk para F-39.

Walaupun sudah 3 tahun berlalu, setiap kebersamaan dan kegilaan dengan kalian selalu mengundang tawa, haru dan bahagia.



-Sakjane iki telat ngap-plote. Wes telat 7 dino. Lek disamaain dengan slametan, iso disimpulno, pitungdinanan.(halah...). Hari itu, tepatnya tanggal 12 Oktober 2008. jadi kalau 3 tahunnya berarti tanggal 12 Oktober 2011 kemarin. Dan 3 tahun yang lalu, tepatnya kita berdiri di hadapan pak Rektor untuk siap-siap berfoto bareng (baca: nampang)-

Selasa, 18 Oktober 2011

Statusku Hari Ini

Beberapa hari terakhir, buku yang aku baca hanya bersumber dari satu orang. Yaitu Fadh Djibran.

Gaya penulisannya, aku suka. Sederhana, sedikit filosofis (walaupun sebenarnya tidak tahu apa itu maksudnya) dan menghujam jantungku. Terutama untuk hal-hal yang sederhana, yang ada di sekitar kita dan mak-jleb. Menusuk langsung ke lubang hati.

Dari berbagai tulisannya, menyadarkan saya akan satu hal, kalau kita hidup di dunia yang sudah berbeda. Jauh dari kata normal (menurut kenormalan yang sebenarnya) dan menjadi asing di dunia kita sendiri. Boleh percaya atau tidak, kamu bisa membuktikannya sendiri dengan membaca tulisannya. Seperti di bukunya yang berjudul, A Cat In My Eyes.

Dan berdasarkan pengalaman selama aku hidup hari ini, aku telah menjadi orang abnormal di kalangan orang-orang normal yang hidup saat ini. Entah itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri atau memang kegilaanku sudah sangat akut sekali hingga aku memilih jalan untuk menjadi abnormal. Tapi untuk statusku hari ini, Menjadi Berbeda, Tidak Akan Membuatmu Berdosa (kata-katanya juga terinspirasi dari buku tersebut di atas) aku bangga.

Dan untuk orang-orang yang merasa sendiri dan asing di dunianya sendiri (keluarga, kampus, lingkungan kerja atau yang lain) karena kalian punya pegangan dan prinsip yang berusaha kalian jaga, kalian jangan minder. Karena menjadi berbeda, tidak akan membuatmu berdosa.