Pagi ini salah satu temanku meminta tolong. Dan tidak tanggung-tanggung, yaitu menyuruh aku berbohong. Terus terang perasaanku, bisa dilihat dari wajahku saat itu, pasti jadi pengen membuangnya ke laut saja. Karena wajahku memang jadi sangat kusut sekali. Aku sangat berat hati melakukan itu. Dan aku berusaha, sebisa mungkin untuk tidak berbohong.
Berbohong bukan merupakan hal yang sederhana bagiku. Dulu, aku pernah sering berbohong, Sampai bisa dibilang, enteng sekali rasanya berucap bohong. Dengan membuat alasan-alasan yang mungkin masuk akal, padahal sebenarnya tidak. Kepada teman, guru di sekolah, sampai kepada orang tua. Sialll....kenapa aku bisa sebodoh itu.
Teringat sebuah iklan, tentang seorang anak kecil yang ditanya ibunya dan berkata bohong. Trus pas sekolah, nyontek, Pas ketilang pak polisi, melakukan suap tempel. Pas sudah kerja, jadinya seorang koruptor. Bisa jadi kebiasaan anak dari kecil yang berbohong, membawa kebiasaan berbohong juga dalam bekerja, makanya jadi koruptor.
Sering kali aku bertanya sana-sini, untuk mencari kebenaran hukum dalam berbohong. Karena pernah kali, dapat informasi boleh berbohong kalau untuk kebaikan. Nah maksudnya gimana tuh?
Tetapi menurutku, sebaik apapun bentuk kebohongan, itu tetap merupakan kebohongan. Dan kebohongan itu buruk karena bisa berakhir kepada bentuk kemunafikan. Karena dengan satu kebohongan yang kecil akan bersambung ke kebohongan-kebohongan selanjutnya, dan jadilah besar bentuk kebohongan itu.
Serial film anak hasil buatan bangsa Jepang yang berjudul Chibi Maruko Chan, pernah mengangkat tema tentang berkata bohong. Di situ diceritakan si tokoh utama, Maruko melakukan kebohongan kepada ibunya saat ditanya tentang kotak kue yang ditaruh ibunya di dapur. Dari kebohongannya itu, bersambung ke kebohongan selanjutnya kepada kakeknya, kepada guru di sekolah dan juga kepada pak polisi yang sedang patroli saat itu. Awalnya, Maruko merasakan getar dada yang sangat, saat melakukan kebohongan. Namun ketika lama-lama dia merasa enteng untuk melakukan kebohongan, karena getar hatinya mulai hilang.
Sebenarnya getar itu berasal dari nurani kita. Dia menjadi alarm seperti jam beker kita yang berbunyi saat setelan kebohongan telah dilalui. Dan apabila getar di hati sudah tidak ada, seharusnya kita sudah harus mulai waspada. Karena itu sebagai pertanda, bahwa nurani kita sudah mulai sakit. Sakit dengan segala bentuk kebaikan. Dan apabila tidak segera diobati, maka hati nurani itu akan mati. Dan kita akan benar-benar mati rasa, terutama saat melakukan kebohongan kita akan merasa biasa saja, enteng dan merasa tanpa dosa. Audzubillah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar