Jumat, 28 Januari 2011

Aku Cinta Produk Indonesia

Di Indonesia, aku dilahirkan sebagai salah satu penghuni suku Jawa. Sebagai orang Jawa, bisa dibilang aku cukup bangga. Mungkin hal itu juga bakal aku rasakan jika aku jadi orang Bugis, Madura, Batak ataupun yang lainnya. Karena semua tahu, banyak sekali kebudayaan yang bagus dan sangat perlu dilestarikan. Dan salah satunya adalah bahasa daerah.

Di Jawa, bahasa jawa (boso jowo) yang menjadi sebutan bahasa daerahnya. Itu berdasarkan kata ibu guruku sewaktu jaman masih sekolah (SD dan SMP) dulu. Kata ibuku juga. Bapakku juga bilang seperti itu. Di internetpun aku menemukan dengan sebutan kata itu. Jadi sepertinya memang benar "bahasa jawa/boso jowo" adalah nama dari bahasa daerah orang Jawa.

Bahasa jawa sebenarnya dibagi dalam tiga tingkatan register utama. Atau dalam boso jowo-nya disebut sebagai undhak-undhuk boso. Nah, dengan undhak-undhuk ini kita bisa melihat kedudukan atau posisi seseorang dalam tatanan masyarakat. Hal ini juga bisa diartikan sebagai bentuk penghormatan kita saat berhadapan dengan lawan bicara kita. Biasanya disesuaikan dengan usia, posisi sosial atau hal-hal yang lain.

Pembagian dari undhak-undhuk boso itu adalah
1. Ngoko. Nogoko dibagi menjadi dua, yaitu ngoko halus (andhap) dan ngoko kasar (lugu)
2. Madya.
3. Krama. Krama dibagi menjadi dua juga, krama halus dan krama inggil.

Biasanya kalau dengan sesama teman di masa kecil, anak-anak biasa saling berbicara dengan menggunakan bahasa jawa ngoko. Sedangkan dengan orang tuanya, anak-anak di kampung memakai bahasa madya atau krama. Sedangkan sesama orang tua (dewasa), apabila mereka sudah akrab, memakai bahasa jawa madya maupun krama. Namun apabila percakapan itu dilakukan dengan orang yang mempunyai kedudukan pemerintahan lebih tinggi (misal raja, pak lurah dll) biasanya memakai bahasa krama inggil. (Untuk paragraf ini, kutulis berdasarkan ilmu pengingatanku saja. Jadi kalau salah, dengan senang hati monggo dibenarkan.)

Ngomongin soal bahasa jawa, aku jadi ingat tentang suatu kejadian yang dialami temanku. Pada waktu itu, dia mampir ke rumah di kampung. Kebetulan emang dia ada acara di Tulungagung bersama temanku yang lain. Pas dia datang ke rumah, datanglah bapakku yang ikut menyambut dan nimbrung bersama kami di ruang tamu. Seperti kebiasaan, bapakku selalu bertanya dengan bahsa Indonesia, karena bapak paham kalau aku kuliah di ITS pastilah temanya beragam asalanya. Apalagi sebelumnya aku sudah bilang pada beliau kalau mereka berasal dari Riau, Jakarta dan Tulungagung.

Satu persatu bapak bertanya kepada masing-masing dari mereka. Yang dari Tulungagung menjawab dengan bahasa Jawa. Dan pastinya lancar jaya. Sedangkan yang dari Jakarta, mantab menjawab dengan bahasa Indonesia, karena dia tidak terlalu paham bahasa Jawa. Sedangkan yang dari Riau, menjawab dengan bahasa Jawa. Karena dia mengaku mempunyai banyak saudara di Jawa, khususnya Jawa Timur. Namun ketika ditanya tentang pekerjaan bapaknya, hanya temanku dari Riau ini saja yang bermasalah. Pada waktu itu bapak bilang, " Bapak ngastha wonten pundi ?" Agak lama juga dia menjawabnya. Sebelum sempat menjawab, dia sudah tersenyum malu. Untungnya aku segera menangkap sinyal itu. Ternyata dia tidak paham dengan kalimat yang diucapkan bapak. Jadinya aku yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Dan kamipun semua langsung tertawa. "Makanya kalau tidak bisa berbahasa Jawa, tidak usah sok pakai bahasa Jawa," kata temanku dari Jakarta sambil tertawa.

Sekian dulu tulisanku tentang bahasa Jawa. InsyaAllah lain waktu akan aku sambung lagi.

ITS Online, 28 Januari 2011
Mengambil referensi dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa"

Senin, 24 Januari 2011

Satu Merah

"Bye-bye HP butut" ucapku girang sambil melepas paksa kartu operator dari dalamnya.

"Ini mbak," sambil menyerahkan kartu itu kepada mbak-mbak SPG yang melayaniku, kumasukkan HP bututku ke dalam tas.

Mbak SPG nya njelasin, cas cis cus, panjang lebar banget. Dan seperti biasa, aku hanya manggut-manggut sok paham. "Ah..gampang. Kalo tidak bisa tinggal buka buku petunjuknya." batinku sok tahu.

"Sebentar ya mbak, saya buatkan notanya," lanjut mbak SPGnya

"Oke mbak," sambil pelan-pelan ngeluarin duit. Agak gemetaran. Tengah-tengah antara tidak rela buat melepas uang sebanyak itu dan takut kalau ternyata duit yang kubawa kurang.

"Alhamdulillah, masih sisa 50 ribu. Hehehe.." batinku.

"Ini mbak uangnya. Satu juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Kontan." jelasku seperti orang yang sedang ngucapin akad nikah. Trus langsung semua bilang "sah". Hehehe....ngawur!

"Asyik...HP baru akhirnya kudapat. Merah lagi. Waktunya melancarkan aksiku." batinku sesaat sebelum meninggalkan counter itu.

Si Reva yang selalu setia mengantarku kemana saja, tidak banyak komentar waktu itu. Dia hanya diam dan
antheng waktu mengantarku pulang. Mungkin dia takut melihat wajahku yang penuh kemenangan. Apalagi saat aku berteriak,"Dengan HP ini, aku akan menguasai dunia. Hahahaha....!!". Dan sayangnya itu hanya terdengar dibatinku saja.

"satu merah" eksyen

Satu, dua, tiga, yak...jepret!

"Senyum dong,"

"Kamu memang cantik"


(Cerita aslinya kurang seram dari ini. Hahahaha... Selasa, 27 April 2010)

Hujan, dingin, Padi-Tak Hanya Diam
ITSOnline