Rabu, 21 Desember 2011

Rumah 1%


Sudah hampir 7 tahun lebih, aku merantau di Surabaya. Kota yang menjadi tempat tinggalku yang kedua. Atau lebih tepatnya, tempatku merebahkan badan dan mengarungi segudang petualangan yang terkadang sangat melelahkan. Dan kota ini mendapatkan jatah porsi waktu yang lebih banyak, daripada di kota tempat aku lahir, rumah pertamaku di Tulungagung.

Bisa dihitung berapa waktuku di rumahku yang pertama. Aku hanya pulang sebulan sekali. Berangkat dari Surabaya sekitar jam sebelas siang karena paginya ada agenda rutin setiap pekan. Naik kereta kurang lebih 5 jam perjalanan. Dan besoknya harus balik ke Surabaya lagi sekitar jam 14.00 supaya tidak terlalu malam sampai Surabaya. Jadi kalau dihitung, hanya sekitar 22 jam. Tidak sampai 24 jam. Dan itu terpotong waktu tidurku, waktu mandiku, waktu beres-beresku dan waktu lain-lainku. Dan hanya sedikit waktu untuk ibuku. Tapi ibu selalu ada untukku.

Walaupun 99% jatah porsiku ada di rumah kedua, rumah pertama selalu membawa kehangatan tersendiri. Karena ada ibu di sana. Dia yang selalu ada, mau mendengar setiap keluhku dan tak lupa juga seribu rentetan doanya selalu menyertaiku.

Oh, ibu..
Maafkan aku,
Walaupun aku tahu kalau aku sering membuatmu sedih, tapi aku masih juga tidak jera untuk mengulanginya lagi. 
Begitu tidak adilnya diriku terhadapmu, bu.
Kau selalu ada untukku, tapi aku selalu menghilang darimu.
Namun, aku sangatlah beruntung dan bersyukur mempunyai ibu seperti engkau.
Semoga Allah swt senantiasa merahmatimu, bu.

Selamat hari ibu,
Maafkan jika hari ini aku hanya bisa berucap lewat suara telepon bu.
Dan itupun terputus di jalan karena pulsa HP ku sekarat. (terlalu....)


Rentetan waktu telah bergulir,
Begitupun kasihmu,
Selalu melekat terasa,

Sejenak aku sadar akan khilafku,
Tapi sejuta waktu, aku melupakanmu,
Dan kau selalu ada di sampingku,

Oh ibu,
Ijinkan aku berucap maaf padamu,
Menghapus kesedihan di hatimu,
Memberi banyak senyum buatmu,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar