Suatu hari aku aku main ke rumah pendetaku. Ngobrol ngalur-ngidul-ngetan-ngulon. Sampe akhirnya kita cocok pada satu obrolan tentang rumah sakit umum. Tidak usahlah menyebutkan apa nama rumah sakitnya. Tapi yang jelas rumah sakit itu letaknya lumayan dekat dengan kampus ITS. Sering sekali menjadi tempat pelarian mahasiswa yang sekarat melawan sakit maag dan diare (karena kedua penyakit itulah yang umum dijangkiti mahasiswa ITS).
Pendetaku bercerita tentang temannya yang kecelakaan lumayan parah. Tangannya mengalami patah tulang. Tapi apesnya, ketika di bawa ke rumah sakit itu, tidak mendapati pelayanan yang cepat dan tangkas. Malah berbagai alasan bla-bla-bla dikeluarkan oleh salah satu petugas rumah sakit, kalau mau mendapatkan perawatan. Sampai teman pendeta saya akhirnya terkapar tak tertangani dengan baik dan benar di ruang UGD. Saya yakin perasaan pendeta saya waktu itu sama hancurnya dengan saya ketika saya membawa adik saya berobat ke sana. (pokoknya musti banyak-banyak istighfar di sana.)
Lha aku, bagaimana dengan cerita perasaanku? Begini ceritanya, salah satu adikku sakit. Sepertinya maag akut sedang menggerogotinya. Tapi karena dia-nya juga lumayan agak bandel waktu itu, jadinya dia nahan sakitnya sampai tidak bisa tidur, nangis, ingin terjun dari lantai 7 perpustakaan ITS (hehe..berlebihan). Tapi memang benar, akhirnya karena saya juga tidak tega melihat dia meringis menahan sakit, saya angkutlah dia ke rumah sakit tersebut.
Daftar dulu. Oke, "Mbak, bu, mas, pak, saya mo daftar pasien sakit! Helloooo..." Akhirnya muncul juga si penjaga loket. "Lumayan cepet, sesuai dengan yang tertulis di plakat depan loket. Eh terlambat beberapa menit ding." batinku
Sambil membawa kupon ketemu dokter, kami menuju poli yang berhubungan dengan sakit adikku, maag. "Bujubune, banyak amat yang ngantri....ya wes mengantri dengan sabar. Disiplin"
1 detik, 1 menit, 1 jam..."Nona Eka..." (Alhamdulillah dipanggil, ayo dhek siap-siap).
Menghadap penjaga antrian, "Yang sakit siapa?" tanya bu penjaga. "Ini bu adik saya."jawabku
"Ya sudah yang sakit, duduk sini dulu. Mbak nya tolong bayar ini di loket sebelah." pesan ibu penjaga dengan nada tanpa kalem-kalemnya. "Hah...bayar dulu ya bu. Oke deh." batinku "Tunggu bentar ya dhek!"
Pembayaran lancar, "Ini bu saya sudah membayar," sambut saya ketika menemui ibu penjaga lagi. "Ya sudah ditunggu dulu ya mbak, nanti dipanggil lagi." kata ibunya dengan nada tanpa rasa dosa. " Apaaaaaa.....???" teriakku dalam hati.
2 detik, 2 menit dan 2 jam lebih berlalu... Dan nama adikku belum dipanggil lagi. Padahal dia di sebelahku sudah mirip orang jalanan yang terkapar lemah tak berdaya di teras toko yang sudah tutup di malam hari. Melassssss....
Ya sudah, kulangkahkan kakiku menuju ibu penjaga. "Bu, ini antrian bisa disela apa tidak bu. Kasihan adik saya itu bu, sudah mirip ulat kepanasan yang sudah mengering, alias terbujur kaku...?" Si ibu penjaga akhirnya mendongakkan kepala melihat kondisi si adikku. Dan, "Ya sudah mbak, anaknya di suruh kesini sekarang." kata ibunya, "Alhamdulillah" batinku
Masuklah saya dan adik saya ke kamar pemeriksaan. Sebentar adik saya terbaring di kasur pemeriksaan, dokternya yang satu kabur. "Ya mungkin dia sedang ada tugas lain yang lebih mulia" hibur batinku "tegaaaaaaaa......"jeritku dalam hati "padahal pasien yang antri masih banyak."
1 detik, 2 menit, 3 jam...
Tidak sampai berjam-jam sih, tapi cukup memakan waktu beberapa menit adikku hanya bengong menahan sakit karena tidak juga diperiksa. Malah ada seorang DM yang mungkin lagi praktek di situ kelihatan banget kalau dia lagi bingung karena induknya telah kabur. Ya sudah, si penjaga dengan enthengnya bilang kepada DM nya, "Ya wes kamu periksa". Jelas saja si DM tambah bingung. Kelihatan banget dari gerak tubuhnya dan mimik wajahnya yang antara senyum dan mau kabur.
Untungnya dokter di sebelahnya langsung tanggap. Tidak berselang lama, si dokter asli langsung beranjak memeriksa adikku. "Lumayan cantik juga ni dokter," batinku memujinya... (eh beneran lho dokternya cantik, kalau tidak percaya tengok saja sendiri.)
Tapi kekecewaanku ternyata masih berlanjut, si dokter sepertinya tidak memeriksa langsung. Hanya pegang stetoskop, ukur tensi dan detak nadi trus juga mungkin pegang perut yang kata adikku lagi sakit, tapi kelihatan kurang begitu serius. Karena dia masih menganalisanya lewat cerita si adikku saja. Dan untuk menguatkan analisanya akhirnya dia berhasil membuat kami mengambil keputusan untuk menginap di rumah sakit. "Baguuuusssss.....!!!!!"
"Ya mbaknya yang tidak sakit silahkan mengurus pendaftaran kamarnya di tempat pendaftaran bawah." kata seorang penjaga di situ. "Adiknya biar menunggu di sini saja."
"Iya pak,"jawabku sekenanya. "Dhek kamu tunggu di sini sebentar ya" kataku kepada adikku yang aku sudah tidak tega lagi melihat wajahnya.
Ruang pendaftaran ada di lantai satu. tempatnya di pojokan. Tersembunyi dari ruang utama kedatangan. Dan ketika aku datang, ada petugas rumah sakit yang sudah mulai memasang pintu untuk menutup loket pendaftaran. "Loh piye tho, trus kalau sewaktu-waktu ada yang mau daftar seperti aku begini gimana???" gumamku.
Setelah melihatku, bapak petugas hanya memasang tiang pengunci saja. Tidak jadi semua. Namun berawal dari sinilah kekecewaaku mulai memuncak. Di ruang pendafataran tidak ada orang satu pun. Trus saya ketok, saya palu juga tidak ada yang muncul. Pernah terbesit untuk masuk ke dalam langsung, tapi aku urungkan.
Tidak berapa lama, ada perawat yang terlihat di ruangan dalam. Sambil melambai-lambaikan tangan aku coba meraih perhatian perawat. Alhamdulillah perawat keluar. "Ya, ada apa mbak?" tanya si perawat
"Mau daftar kamar opname mbak." jawabku
"Ooo, silahkan di tunggu dulu ya mbak.." kata perawat
Aku kira perawat tadi memanggil perawat yang bertugas untuk mengurus administrasi. Tetapi hampir 45 menit aku terdampar di situ ditemani bapak-bapak polisi yang ternyata juga menunggu loket buka dengan sekali-kali mengeluarkan kritikan atas kondisi rumah sakit. "Sabar ya pak," jawabku ketika mendengar bapaknya mengeluh. Padahal dalam hati aku juga lumayan mengeluh, "Kalau dalam satu hari ada 100 pasien yang akan mengurus pendaftaran opname atau hanya periksa saja, mungkin bakal ada 100 orang juga yang mungkin akan bertambah parah penyakitnya atau bahkan meninggal karena lambannya pelayanan." batinku dalam hati
Dan kalau membaca motto yang tertulis di setiap sudut rumah sakit tersebut, "menebar salam dan senyum dalam pelayanan" aku terkadang tertawa geli dan berdoa, semoga itu bakal segera terealisasi secepatnya. Bukan hanya hiasan dinding saja.
Dan selama kurang lebih 3 hari adikku menginap di rumah sakit tersebut. Selama itu pula banyak sekali hikmah yang bisa saya ambil. Salah satunya, yang sudah umum dan sering kita dengar adalah, menjadi sakit itu tidak enak dan mahal. Maka jagalah kesehatan dengan baik.
*Nuwun sewu, gambar diambil di sini
*Nuwun sewu, gambar diambil di sini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar