Pas lagi nganggur, sebenarnya banyak sekali muncul ide yang mau dituliskan. Tapi entah kenapa ketika membuka blog ini, langsung "blank". Opo yo sing arep tak tulis???
Padahal baru semenit lalu (ketika akan login ke blog ini) aku ingin menulis sesuatu. Ah...ingatanku memang pendek.
Ehm...mungkin kali ini aku akan menuliskan cerita tentang keponakanku saja. Cerita ini sebelumnya pernah kutulis di facebook juga. tapi tidak apa-apa. Untuk mengobati kekecewaanku akan ke-"blank"-anku ketika membuka blog ini.
Begini ceritanya,
Suatu hari, ada penjual jamu keliling yang melewati depan rumah mertua kakakku. Lokasi di pedesaan membuat siapa saja hapal dengan penduduk dan yang biasa keliling di wilayah mereka. Begitu pula dengan si tukang jamu yang sudah akrab juga dengan kakakku dan keluarganya, termasuk anaknya yang pertama, Si keponakanku.
Keponakanku berumur 5 tahun kala itu. Dengan gayanya yang masih polos, nggemesin dan "nganyelin". Pastinya segala ulahnya membuat aku sering kangen ma dia. Walaupun tidak jarang juga aku bertengkar dengan dia ketika di rumah. hahaha...dasar anak kecil. (tapi bukan aku lho ya...)
Kala itu, keponakanku barusan dapat adhek baru. Namanya Safa. Tapi karena yang ngucapin si keponakanku itu maka nama adheknya jadi "Capa".
Si tukang jamu yang mampir ke rumah, langsung disamperinlah oleh si keponakanku. Dan pas disitu, terjadilah tragedi itu.
Si tukang jamu : Nama adheknya capa? (sapa si tukang jamu dengan bergaya mengikuti anak kecil)
Keponakanku : Dhek Capa (jawabnya dengan polos)
Si tukang jamu : (dengan gaya bingung, si tukang jamu mengulangi pertanyaannya) Nama adheknya capa?
Keponakanku : Dhek Capa!!! (dengan nada sedikit kesal,karena menganggap si penjual jamu ini lola alias loading lama)
Si tukang jamu : (dengan nada sedikit memperjelas, si tukang jamu bertanya lagi) Lha iya, nama adhekmu capa?
Keponakanku : Dhek Capa!!! (dengan nada nyaris teriak, gaya khas anak kecil kalau kalau grgetan)
Karena keduanya sama-sama tidak merasa jelas, aksi tanya-jawab itu masih terjadi hingga seperti orang yang lagi ribut (ampun dah, kagak bisa mbayangin aku gimana serunya kalau beradu "ketangkasan" dengan keponakanku)
Mendengar keributan yang terjadi, ibunya keponakanku, alias kakakku langsung datang sambil tertawa ngakak. Si tukang jamu seperti kurang kerjaan saja, mau-maunya meladeni polah keponakanku yang tidak mau kalah. Bak Dewi Justitia, kakakku langsung mengakhiri pertarungan mereka berdua. (Syukurlah tidak sampe terjadi pertumpahan darah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar